ACEH TIMUR, Senin 10 Desember 2019
Mantan kombatan GAM Wilayah Peureulak Muhammad Fadil, ikut angkat bicara terkait statemen Azhar Abdurrahman yang meminta pasca berakhir dana otsus Aceh Tahun 2028 tidak di perpanjang lagi.

“Saya sangat mendukung apa yang di sampaikan oleh Azhar Abdurraman, bahwa penggunaan dana otsus Aceh sejak tahun 2008 hingga sekarang, belum menyentuh hajad hidup mendasar rakyat Aceh, apalagi terhadap kesejahteraan korban konflik seperti mantan kombatan GAM dan Anak Yatim syuhada,” kata nya kepada Media di Simpang Ulim, senin (10/12).

Menurut nya, “Aceh mendapatkan dana otsus dari Pemerintah Pusat tak terlepas dari buah hasil perjuangan Gerakan Aceh Merdeka(GAM) ” Peng Otsus Nakeuh Boh Darah Perjuangan GAM,(mendapatkan dana otonomi khusus dari hasil keringat, air mata, darah da nyawa para perjuang GAM,” ujar Fadil dalam Bahasa Aceh.

Tapi kenyataan nya program dana otsus tidak memberi dampak terhadap kesejahteraan mantan pejuang GAM dan anak yatim syuhada, serta masyarakat Aceh pada umum nya. Meskipun tak di pungkiri ada bantuan untuk kombatan dan korban konflik melalui dana reintegrasi tapi jumlah bantuan nya belum proporsional, kata mantan Anggota DPRK tersebut.

“Saya menilai perencanan dan program dana otsus gagal mensejahterakan korban konflik dan masyarakat pada umum nya, sudah 12 tahun dana otsus bergulir dengan anggaran puluhan triliun tapi realita nya rakyat Aceh masih hidup di bawah kemiskinan, tingkat penganguran cukup tinggi, kesenjangan sosial sangat kontras di dalam masyarakat Aceh,” ungkap nya

Kondisi ini bila terus menerus tidak ada perubahan dan pola perencanan alokasi dana otsus Aceh, di khawatirkan perdamaian Aceh akan terancam dan Aceh kembali ke pusaran konflik, tutur nya.

Mantan kombatan camp King Wold menambahkan “Selama ini dana otsus Aceh di nikmati segelintir oknum yang dekat dan punya akses dengan penguasa, para oportunis menggerogoti uang rakyat Aceh melalui proyek dana otsus,” imbuh nya.

Ia menambahkan ” sejak Aceh damai dan bergulir nya dana otsus Aceh, Pemerintah sukses meng integrasikan mantan kombatan GAM dalam bingkai NKRI tapi gagal mensejahterakan nya. Seharus nya tidak ada lagi korban konflik yang hidup melarat dan sudah punya pekerjaan atau memiliki jaminan hidup masa tua mereka serta untuk membiayai pendidikan anak-anak nya, tapi kenyataan nya jauh panggang dari api,” tutup Fadil.

By Haris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *