achehnese.com-Banda Aceh. Juru Bicara, Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA), H. Muhammad Saleh menanggapi secara dingin adanya provokasi oknum atau pihak tertentu, terkait ditemukan bom rakitan yang dibungkus bendera Bulan Bintang di Jembatan Play Over, Simpang Surabaya, Minggu siang.

“Itu hal biasa. Ibarat film lama yang selalu diputar-putar ulang. Terutama menjelang Peringatan 15 tahun MoU Helnsinki, tanggal 15 Agustus 2020 mendatang maupun Pilkada 2022. Tapi yakinlah, rakyat Aceh sesungguhnya sudah sangat paham dengan permainan oknum tertentu ini,” jelas Shaleh, begitu dia akrab disapa, Minggu sore di Banda Aceh.

Menurut Shaleh, penjelasan ini perlu disampaikan, menjawab berbagai konfirmasi dari rekan-rekan media pers cetak dan online, terkait peristiwa tersebut.

“Pengalaman konflik Aceh selama 30-an lebih dan kemudian terciptanya perdamaian antara GAM-Pemerintah Indonesia, 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Secara psikologis dan historis, telah membuat berbagai elemen rakyat Aceh menjadi dewasa dalam memahami dan memaknai setiap kondisi yang terjadi di Aceh saat ini. Karena itu, jangan usik dan ganggu damai Aceh, terlalu besar resiko nantinya dan tak sanggup bertanggungjawab terhadap rakyat Aceh,” ujar Shaleh.

Itu sebabnya, berbagai aksi propaganda dan kontra produktif terhadap kondisi Aceh damai saat ini, yang secara khusus di arahkan kepada Partai Aceh (PA) dan Komite Peralihah Aceh (KPA), justeru akan semakin membuka mata rakyat Aceh, Indonesia dan dunia terhadap berbagai anasir yang ingin merusak damai abadi di Aceh.

“Bagi Partai Aceh tidak ada kepentingan apapun dengan kejadian itu. Sebab, Partai Aceh mulai dari pimpinan hingga  jajarannya terkecil di gampong atau desa, tetap komit untuk menjaga dan merawat  perdamaian abadi di Aceh,” tegas Shaleh.

 Karena itu, Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh sebut Shaleh, mengutuk keras tindakan oknum tertentu yang sengaja merusak perdamaian abadi di Aceh, untuk tujuan dan maksud tertentu pula. Siapa pun pelakunya.

“Ada indikasi, perbuatan oknum tertentu ini, sebagai pengalihan isu terhadap berbagai masalah kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di Aceh. Termasuk soal transparansi pengunaan dana Covid-19 di Aceh serta berbagai kasus yang berindikasi praktik korupsi, yang saat ini menjadi konsentrasi dari aparat penegak hukum di jajaran Polda Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu sebabnya, DPA Partai Aceh menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk mengusutnya secara tuntas,” sebut Shaleh.

Terkait kasus bom rakitan, DPA Partai Aceh meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas peristiwa ini. Salah satunya, dengan membuka sejumlah CCTV yang ada di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sehingga kasus ini menjadi terang menderang.

“Mengenai adanya bendera Bulan Bintang di TKP. Itu bukanlah sesuatu yang luar bisa. Sebab, bisa saja dilakukan oleh oknum tertentu dengan maksud dan tujuan untuk menyudutkan Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA). Karena itu, jangan kemudian, dikait-kaitkan dengan Partai Aceh,” tegas Shaleh melalui siaran pers kepada sejumlah media cetak dan online.

Menurut Shaleh, tak sulit bagi oknum atau kelompok tertentu untuk melakukan teror dan merusak damai Aceh. Termasuk dengan cara-cara memasang bendera Bulan Bintang dengan maksud melukai dan menciderai perdamaian yang kini sudah dinikmati rakyat Aceh.

“Sekali lagi, ini cara lama dan tidak cerdas. Apalah sulitnya membuat bendera Bulan Bintang lalu kemudian memasang dan mengaitkan dengan Partai Aceh dan KPA. Tapi rakyat Aceh tak sebodoh yang diduga para pelaku,” tegas Shaleh.***

sumber: modusaceh.co

By Haris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *